Logo SantriDigital

amalan yang dicintai Allah

Khutbah Jumat
W
Waryono
2 Mei 2026 4 menit baca 1 views

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Alhamdulillahil ladzi hadana lihadha wa ma kunna linahtadiya laula an hadanallahu. Alhamdulillahil ladzi qadara fa ha...

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Alhamdulillahil ladzi hadana lihadha wa ma kunna linahtadiya laula an hadanallahu. Alhamdulillahil ladzi qadara fa hada. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, izzallahu wal mu'minun. Wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluhu, sayyidul mursalin wa imamil muttaqin. Allahumma salli 'ala Nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Hadirin wal hadirat yang dimuliakan Allah, Di hari yang penuh keberkahan ini, marilah kita merenungi, hati kita yang berdegup, jiwa kita yang merindu, untuk bersembunyi dari murka-Nya dan memohon rahmat-Nya. Betapa seringnya kita lalai, betapa seringnya kita terbuai oleh gemerlap dunia yang fana. Jauh di lubuk hati, kita tahu kitalah hamba-hamba-Nya yang berlumuran dosa, yang sering kali berpaling dari kebenaran. Namun, tidakkah ada secercah harapan dalam diri kita untuk diangkat amalan kita di hadapan Sang Pencipta? Amalan apa yang sesungguhnya dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Kita semua menginginkan cinta Allah. Kita semua mendambakan tatapan rahmat-Nya yang melimpahi. Namun, seringkali yang kita suguhkan hanyalah perbuatan yang justru menjauhkan diri kita dari-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Ali 'Imran ayat 31: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ *"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."* Lihatlah, hadirin. Kunci utama untuk mendapatkan cinta Allah adalah dengan mengikuti jejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Apakah sudah sejauh mana kita mencontoh beliau? Dari mulai shalatnya, akhlaknya, muamalahnya, hingga cara beliau bernapas. Terkadang, kita sibuk mencari amalan-amalan yang “aneh” atau “spesial”, padahal amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling dekat dengan sunnahnya. Amalan yang datang dari hati yang tulus, bukan sekadar formalitas. Hati yang merintih saat membaca Al-Qur'an, hati yang gemetar saat mendengar ayat-ayat-Nya, hati yang menangis dalam sujud, meratapi setiap kesalahan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Selain mengikuti sunnah, amalan yang paling dicintai Allah adalah ketulusan dalam beribadah. Ketika kita berdiri di hadapan-Nya, janganlah hati kita tertuju pada pujian manusia atau pandangan makhluk-Nya. Cukup pandangan Allah yang kita cari. Betapa sering kita shalat namun hati kita melayang ke urusan dunia? Hati kita terpecah belah, tidak khusyuk, hanya raga yang tunduk namun jiwa melayang. Allah tidak melihat raga kita, O hamba-Nya, Allah melihat apa yang tertanam di dalam hati. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ." (رواه مسلم) *"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan tidak pula kepada jasad kalian, tetapi Allah melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian."* Apakah dada kita sudah bergetar saat mendengar hadits ini? Betapa sering kita shalat dengan gerakan yang sempurna, namun hati kita kosong dari rasa takut dan cinta kepada-Nya. Dosa-dosa kita menumpuk, namun hati kita tetap tenang. Betapa meruginya kita jika amalan kita hanya sekedar gerakan tanpa ruh, tanpa makna, tanpa ketulusan yang mengalir dari lubuk jiwa yang terdalam. Tatkala kita sujud, apakah pikiran kita telah sepenuhnya tertuju kepada Allah? Atau justru sibuk menghitung berapa banyak orang yang melihat kita, atau merencanakan apa yang akan kita lakukan setelah salam? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Amalan lain yang dicintai Allah adalah rasa syukur yang mengalir tiada henti, bahkan di saat cobaan menerpa. Ketika kita diuji sakit, kehilangan, atau kesedihan, adakah lisan kita tetap berucap, "Alhamdulillah?" Allah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ *"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya akan Aku tambahkan (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat pedih.'"* Ya Allah, betapa sering nikmat-Mu yang melimpah ruah kita anggap sebagai sesuatu yang lumrah, yang seharusnya sudah ada. Kita lupa bahwa setiap tarikan napas, setiap kedipan mata, adalah karunia dari-Mu. Kita lupa bahwa kesehatan yang kita rasakan saat ini bisa sewaktu-waktu Engkau cabut. Betapa sering hati kita menggerutu, mengeluh, ketika cobaan datang, padahal itu adalah cara-Mu untuk membersihkan dosa-dosa kita. Menangislah, hadirin. Menangislah karena betapa banyak nikmat-Mu yang tidak kita syukuri, dan betapa banyak cobaan-Mu yang kita keluhkan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Dan yang tak kalah penting, amalan yang dicintai Allah adalah taubat yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar ucapan lisan, tetapi penyesalan yang mendalam, niat yang teguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa, serta berusaha mengganti keburukan dengan kebaikan. Ingatlah, Allah Maha Menerima Taubat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً." (رواه البخاري) *"Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali."* Jika Rasulullah, manusia yang maksum, senantiasa bertaubat, lalu bagaimana dengan kita yang penuh dengan kekhilafan? Setiap detik adalah kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Jangan tunda lagi. Jangan biarkan timbunan dosa semakin memberatkan langkah kita menuju surga-Nya. Sadarlah, wahai diri, kita ini milik Allah. Kita akan kembali kepada-Nya. Apakah kita akan menghadap-Nya dalam keadaan penuh noda, atau dengan wajah berseri karena amalan yang tulus, yang dicintai oleh-Nya? Rasa sedih yang menyayat hati saat ini, semoga menjadi awal dari perubahan yang hakiki. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →